Kesanku Ikut Kelas #60HMB Batch 2 SMILE

Silakan ketik kata kunci

Kesanku Ikut Kelas #60HMB Batch 2 SMILE



Oleh Ani Qotul Uhbah*

Berawal dari sebuah tekad dan motivasi dalam diri yang ingin menguji diri menjadi sesuatu yang lain. Demi suatu tujuan yaitu menjadi pribadi yang lebih baik setiap waktu. Sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah menciptakan dan telah menganugerahkan banyak nikmat kepada saya. Sebagai bentuk nyata dari kepasarahan diri seorang hamba kepada Rabb-Nya.

Muncullah niat untuk memberikan tantangan kepada diri yang masih terus ingin berbenah ini akan satu tugas sebagai seorang hamba yang sering dilalaikannya. Tugas pertama yang Allah SWT berikan kepada Rasul-Nya yaitu Iqra’ (membaca). Ya, kuakui diri ini masih lalai dan lemah dari tugas mulia ini. Membaca dan menulis adalah salah satu aktivitas yang menjemukan bagi sebagian orang. Tidak asyik, apalagi menarik. Dan tidak menantang.

Seiring berjalannya waktu, rupanya diri ini mulai menyadari betapa pentingnya membaca dan menulis. Tapi bukan hanya sekadar membaca dna menulis. Membaca yang benar-benar mampu menambah pemahaman, mengubah paradigma, menambah kompetensi dan mengubah perilaku. Membaca yang mampu melahirkan semangat baru untuk bisa menuliskan sesuatu sebagai buah dari aktivitas membaca yang telah ditekuni.

Semangat ini semakin bertambah manakala tuntutan profesi juga menuntut banyak membaca dan menulis sebagai wujud keprofesionalan terhadap profesi itu sendiri. Karena profesi ini penuh dengan resiko dan sangat menantang. Jadi tidak cukup hanya mengandalkan pemahaman yang telah didapat sejak 16 tahun yang lalu saat aku dinyatakan lulus sidang skripsi. Walaupun dengan hasil yang sangat memuaskan.

Betapa ilmu dan teknologi semakin berkembang pesat seiring dengan berkembangnya waktu. Ilmu harus terus ditambah dan di upgrade agar kita tidak ketinggalan info dan gagap teknologi. Kita akan seperti orang yang tinggal di hutan, yang minim informasi dan fasilitas.

Maka, membaca dan menulis menjadi sebuah keharusan bahkan kebutuhan seperti makan dan minum. Membaca dan menulis harus terus dikembangkan untuk mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi. Kita berada di tengah kondisi zaman yang terus berubah. Setiap zaman memiliki karakter dan tantangannya sendiri-sendiri. Maka kita sendiri harus survive di tengah perubahan zaman yang ada. Bahkan aktivitas ini sudah ada sejak manusia pertama kali mengenal huruf dan angka.

Tantangan ini tidaklah mudah karena menuntut diri harus kembali mengatur diri dan waktu yang ada. Yang paling utama adalah menata hati dan niat serta membangun motivasi dalam diri. Sebuah motivasi yang kuat, yang menjadi dasar dan alasan mengapa kita harus membaca dan menulis. Jika tahap dasar ini belum selesai, maka dapat dipastikan membaca dan menulis akan menjadi benda purbakala lagi. Kemalasan demi kemalasan akan terus menghinggapi diri sampai tak bisa berkutik lagi.

Setelah kupastikan hati dan pikiran mulai fokus. Kukuatkan juga dengan berdoa memohon kepada-Nya. Aku minta dimampukan diri ini untuk bisa memenuhi semua harapan dan mimpi yang telah dibangun. Sepertinya Allah SWT mengabulkan doaku. Aku dibimbing untuk mengikuti sebuah komunitas yang dapat membantuku mewujudkan semua harapan dan impian. Seorang teman juga saudara menguatkanku akan hal ini. Dia menceritakan kesuksesannya yang semakin membuatku terinspirasi dan membulatkan tekadku. Bismillah, aku langsung mengikuti semua arahannya. Tak hentinya aku mengucap syukur kepada-Nya.

Ya Rabb. Inikah jawabanmu atas doa dan harapan yang kupanjatkan kepada-Mu? Tanpa berpikir panjang, aku langsung mendaftar dan memulai lembaran baru dalam satu fase perjalanan hidupku. Sebagai satu kisah yang juga akan kutulis sebagai pengingatku akan perjuangan ini.

Sungguh, di awal motivasiku hanyalah untuk memaksa diri ini agar mau membaca dan menulis. Aku ingin menguji komitmen dan disiplinku dalam 2 aktivitas ini. Karena aku sangat lalai selama ini. Maka aku harus memiliki lingkungan yang bisa terus mengingatkan. Kupaksa untuk mengikuti kelas online ini. Impian berikutnya, ya, aku ingin memiliki sebuah buku yang kutulis dengan tanganku sendiri sebagai buah dari pemikiran, kenangan, dan pengalamanku. Aku ingin menorehkan semua apa yang aku rasa dan aku pikirkan dalam sebuah goresan tinta dengan harapan dapat berbagi dan menginspirasi orang-orang di sekitarku.

Dan motivasi terbesarku adalah aku ingin memberikan kontribusi kepada dakwah ini. Dakwah yang telah memberikan banyak pelajaran dan ilmu serta pemaknaan akan hidup yang sesungguhnya. Aku ingin memberikan kontribusi dengan segala yang aku miliki. Aku ingin bisa berdakwah lewat tulisan. Dengan begitu akan banyak orang yang tahu dan mendapat ilmu tanpa harus bertemu. Aku juga ingin mewariskan sesuatu untuk generasi setelahku. Sebuah warisan yang terus bisa dikenang dan diambil pelajaran. Dan sekaligus sebagai teladan akan pentingnya membaca dan menulis sebagai pengikat hikmah dan  makna kehidupan. 

Aktivitas baruku ini sungguh menyita perhatian di tengah kesibukan dan fokusku pada tugas-tugas profesiku yang lain. Di awal-awal sesi aku cukup kerepotan membagi waktu. Walaupun sudah kuatur dan kubuat jadwal sebelumnya, tapi pada realitasnya tidak semudah yang dibayangkan. Ternyata tantangan yang ada sangat luar biasa. Betul-betul menguji mental, niat, dan tekad. Karena ada target setiap hari harus membaca dan menulis dengan jumlah yang telah ditentukan. Semua aktivitas harus dilaporkan. Dan setiap hari akan di-update dan dievaluasi.

Aturan sangat ketat. Yang tidak lapor akan diberi tanda silang. Setiap pekan harus mengikuti kelas online dan harus aktif bertanya. Karena semua akan ada penilaiannya. Sungguh ‘wow’ pokoknya. Aku sendiri dibuat ‘heboh’ dengan semua aturan ini. Diawal-awal aku masih bisa mengikuti semua sesi dengan baik dengan segala liku-likunya. Aku terus menata semangatku untuk bisa menyelesaikan semua tantangan yang diberikan.

Sampai pada saat target dinaikkan, aku cukup kerepotan ternyata. Ditambah tugas-tugas padat merayap seperti kereta api lewat. Akhirnya aku pun dapat tanda silang karena beberapa hari tidak laporan. Hehehe. Sempat ada rasa, wah aku sudah kalah. Aku hampir saja menyerah dan tak berharap untuk bisa lulus nantinya.

Aku tetap ikhlas karena demikian realitasnya. Sambil aku terus introspeksi diri, apa yang salah. Aku terus berusaha memperbaiki kondisi yang ada. Sampai pada satu titik aku diingatkan kembali akan tekad awal yang sudah aku miliki. Kukumpulkan kembali semangatku yang hampir saja melemah tanpa asa. Dan meyakinkan diri sendiri bahwa aku pasti bisa!

Walaupun sudah dapat tanda silang tak menyurutkan semangatku untuk lulus. Aku tetap laporan membaca dan menulis. Targetku semua tulisanku selesai pada waktunya. Tapi Allah SWT ternyata juga menaikkan level tantangan-Nya untukku. Pada saat semangatku memuncak untuk menyelesaikan tulisan demi tulisan. Semua dataku di laptop hilang. Astaghfirullah. Cobaan apalagi ini ya Rabb, batinku. Tapi aku harus kuat, walau hati kecilku menangis.

Allah SWT rupanya ingin menguji tekad yang ada di dalam diri ini. Seberapa besar tekad itu kumiliki. Aku harus tetap menata hati walaupun tak dapat dipungkiri aku mengalami masa-masa ‘break and down’ mencoba menerima semua kondisi yang ada. Dengan tetap berpikir positif kepada Allah SWT dengan menguatkan hati kecilku ini. Pasti ada sesuatu yang ingin Allah SWT berikan padaku. Ada hikmah yang Allah SWT ingin aku belajar dari kejadian ini. Ya, pasti ada sesuatu yang Allah SWT kehendaki atas diriku.

Tapi jujur, hampir 1 minggu aku tidak mau melakukan apapun dengan laptopku. Aku tinggalkan semua aktivitas membaca dan menulis yang sudah aku mulai kemarin. Aku tinggalkan pekerjaan yang ada kaitannya dengan tulis menulis. Aku mengerjakan tugas-tugas lain yang tidak berhubungan dengan file-file ku yang hilang. Aku mulai dengan aktivitas baru yang lebih menenangkan diriku. Hingga akhirnya aku memiliki semangat baru untuk memulai lagi hal baru, membuka lagi lembaran baru. Aku dan laptopku yang juga baru. Karena laptopku bersih layaknya laptop baru yang baru digunakan. Tidak ada satupun file yang tersisa.

Begini kisahnya. Hal ini berawal ketika laptopku yang lemot ini di upgrade. Maka, semua data dipindahkan di satu hard disk eksternal oleh petugas yang menservice-nya. Hard disk-nya masih baru juga. Setelah kurang lebih 1 minggu, laptop selesai di upgrade. Laptop langsung kucoba pakai dibantu oleh salah satu temanku untuk melihat apakah masih lemot atau tidak. Setelah dinyalakan dan dicoba klik sana sini, Alhamdulillah kecepatannya sudah bertambah. Wah, senanglah diriku. Aku bisa lanjutkan tugas-tugasku yang 1 pekan kemarin tertunda dengan cepat, pikirku.

Dengan rasa senang, hard disk kutancapkan dan mulai melanjutkan mengerjakan PR-PR yang tertunda sekian waktu saat laptop ini masuk servis. Di awal pemakaian tidak ada masalah. Dari pagi sampai sore laptop menyala terus bersama hard disk-nya yang setia menempel kayak perangko. Semua proses satu hari itu lancar jaya bak jalan tol. Karena waktu sudah sore, setelah beberapa tugas selesai, laptop kumatikan dan hard disk kucabut. Tidak ada yang aneh, semua berjalan dengan baik. Hard disk kusimpan lagi, kumasukkan dalam tas laptop. Jadi semalaman laptop dan hard disk tetap bersama. Besok mau lanjut lagi mengerjakan.

Esok hari, aku melanjutkan lagi tugas yang masih tersisa. Saat hard disk kutancapkan, aku terkesima, tidak ada satu pun data atau file yang muncul. Aku pun mulai khawatir dan risau dengan kondisi yang ada. Beberapa kali kucoba tak bisa. Sampai akhirnya aku konsultasikan dengan temanku yang ahli IT di tempatku bekerja. Hasilnya nihil. Dia pun tak bisa memberikan solusi. Akhirnya dipanggillah bapak yang kemarin memperbaiki. Beliau juga tak bisa memberikan solusi. Semakin panik aku dibuatnya. Dengan terus berbisik kepada Allah SWT, Ya Rabb apakah benar semua dataku tak bisa kembali lagi?

Sampai akhirnya diputuskan membawa hard disk tersebut ke counter-nya. Aku mengiyakan saja karena memang tak mengerti tentang hal itu. Ternyata, waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan semua data cukup lama bahkan sangat lama menurutku. Karena ada kerusakan di bagian pembaca data sehingga harus hati-hati memperbaikinya. Waktunya tidak bisa cepat. Dan tak bisa dipastikan. Akupun mengiyakan saja, walaupun dalam hatiku galau tak karuan. Mengapa? Karena semua data-dataku ada di hard disk itu dan aku tidak punya back up-nya sama sekali. Semua data penting ada di situ. Data-data pribadi maupun data kantor. Termasuk tulisan-tulisanku. Aku tidak bisa melanjutkan semua kerjaan karena semua file ada di kotak kecil itu.

Aku sempat tertegun karena bingung harus memulai dari mana. Aku harus memulai dari nol lagi. Mulai merangkai baru lagi. Ya Allah. Aku hanya bisa beristighfar dengan kondisi yang ada dan memohon ampun kepada-Nya. Aku mencoba mengikhlaskan semuanya. Allah SWT memberiku ujian yang cukup berat. Tapi aku yakin aku bisa melewatinya. Aku mencoba rileks dan mengambil hikmah dari semua ini. Ya, ini memang salahku. Aku tidak mem-back up data-data itu dan saat awal membuka hard disk itu tidak langsung mentransfer semuanya lagi ke laptop. Allah SWT memberikan pelajaran yang berharga sekali kepadaku melalui kejadian ini. Ya, Allah SWT sayang padaku.

Untuk data-data pribadiku, aku sudah ikhlas termasuk data-data kantor. Aku mencoba mencari di beberapa teman dan rekan yang pernah aku kirimi laporan, data atau file yang sama waktu itu. Aku minta semua file-file itu walaupun tidak bisa semua kembali. Aku pun memulai menyusun kembali dari awal. Tidak terlalu sulit bagiku karena aku masih ingat format dan data-data otentik masih bisa kudapatkan dari semua rekan-rekanku. Tinggal ku olah dan kubuat laporannya.

Tapi untuk tulisan-tulisanku. Aku tidak bisa memanggil kembali kata demi kata dan kalimat demi kalimatnya. Cukup sulit menariknya kembali dalam pikiranku. Karena saat menulis semua terlintas begitu saja dalam alam pikiranku saat itu. Mengalir bagai air. Jadi agak sulit mengingat semua tentang apa yang sudah kutuliskan. Ya, aku hampir saja putus asa. Aku sempat off dari aktivitas membaca dan menulis ini. Dan aku sudah menyiapkan diri untuk tidak lulus.

Waktu terus bergulir dan semakin dekat dengan waktu kelulusan. Sampai pada akhirnya, aku tersadarkan kembali. Allah SWT seolah mengetuk hatiku kembali untuk bangkit dari kondisi yang ada. Allah SWT mengingatkan kembali akan impian dan harapan itu. Tepat di H-10 dari waktu kelulusan. Ada kekuatan dalam diri untuk bangkit memulai semuanya lagi. Bismillah, aku menata niat dan menata fokus kembali. Aku mulai menulis lagi dari awal dengan semua yang terlintas dalam pikiran saat itu. Dengan terus menghitung hari. Ya, kurang 10 hari. Ada 14 judul yang harus aku selesaikan.

Aku punya target dalam waktu 1 pekan aku harus selesaikan samua tulisan dan masuk revisi. Jadi, 1 hari aku harus menulis 2 judul. Sementara tugas-tugas tetap menghampiri setiap harinya. Ya, aku sudah berkomitmen dan sudah memulai, maka aku harus selesaikan semuanya sampai akhir. Apapun hasilnya. Aku pasrahkan semua kepada-Nya, lulus atau tidak nantinya. Yang penting sekarang aku berusaha, mengupayakan semuanya secara maksimal dengan segenap kemampuan yang kumiliki. Aku hanya mengikuti alur yang sudah Allah SWT siapkan untukku. Hanya 10 hari.

Aku tetap yakin dan optimis bahwa aku bisa menyelesaikan semua tantangan sampai akhir. Sambil terus berdoa memohon kemudahan dari-Nya.

Alhamdulillah, H-2 100% tulisanku selesai dan sudah revisi. Dan akhirnya dinyatakan lulus oleh penyelenggara. Hampir tidak percaya tapi ini nyata. Terima kasih Ya Rabb. Sebuah rasa yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata, hanya tetes air mata hampir tak percaya. Ternyata aku bisa. Aku bisa melewati semua tantangan yang ada.

Semua atas ridha-Mu saja Ya Rabb. Aku bisa melewati semua tantangan ini atas pertolongan-Mu saja. Hingga akhirnya buku ini bisa terbit. Buku sederhana dari penulis pemula yang masih terus belajar mencoba mengasah kemampuan dan keilmuannya. Menjadi seseorang yang tidak biasa sebagaimana para pendahulunya. Semoga diri ini bisa istiqamah dan terus melahirkan karya mengikuti jejak para seniornya. Aamiin.


*Alumni #60HMB Batch 2



Telah dibuka Kelas Menulis 60 Hari Menulis Buku Batch 4. Info lengkap di sini 
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir

1 Komentar

Cancel