Menulis dengan Hati

Silakan ketik kata kunci

Menulis dengan Hati


Oleh Suyanik 

Berawal dari kegelisahan hati yang tiada bertepi, kutuliskan isi hati dengan secuil kertas-kertas kecil. Kertas dan pena adalah teman sejati yang menjadi saksi bisu setiap mimpi dan prahara. Dia tak pernah melukai.

Menulis sebagai panggilan jiwa. Setiap penulis tidak lepas dari m enulis dan membaca. Bermimpi untuk mengamalkan ilmu dengan berbagai cara dan media. Setiap ada diklat ataupun workshop apapun, baik diadakan oleh dinas pendidikan, dinas perpustakaan, atau lembaga diklat yang lain, saya selalu mengikutinya. Bisa dikatakan haus ilmu, merasa kurang sekali apa yang sudah saya dapati. Apabila tidak mengikuti atau ada kendala, terasa beban.

Di Dinas Pendidikan sering juga mengadakan diklat kepenulisan dengan mendatangkan pakar-pakar dan penulis hebat. Durasi yang diberikan terbentur biaya dan waktu sehingga kurang maksimal. Untuk pelatihan satu atau dua hari itu kurang maksimal. Bisa menulis, itu pun tertatih-tatih.

Suatu ketika Dinas Pendidikan kebupaten mengadakan kepenulisan ilmiah sesuai dengan profesi kita sebagai seorang guru. Dalam penulisan ini dipandu oleh mentor yang sudah berpengalaman dan kompeten dalam penulisan ilmiah. Dari sekitar 248 peserta diambil sekitar 45 peserta. Ini tidak main-main.

Trik pertama yang diberikan, langsung kita menulis dengan tulisan tangan dan dikumpulkan di saat itu juga. Mulai dari judul, kerangka tulisan, sampai pada pembuatan proposal penelitian tindakan kelas. Dari tulisan yang terkumpul tersebut diseleksi oleh panitia peserta siapa saja yang boleh mengikuti kelas tersebut.

Dari 45 peserta tadi dibagi lagi menjadi 5 kelompok. Jadi setiap kelompok terdiri dari 9 peserta. Setiap  kelompok dibimbing oleh seorang narasumber atau mentor yang mendampingi pembuatan penelitian tindakan kelas selama tujuh bulan. Jadi selama tujuh bulan itu kita didampingi oleh seorang pendamping atau mentor yang berkompeten. Dalam kurun tujuh bulan ini kita ada system in-on. Ada kalanya bertatap muka dan ada kalanya kita kerja mandiri. Hasil kerja mandiri nanti kita konsultasikan ke pembimbing dan didiskusikan dalam kelompok.

Pendampingan penelitian tindakan kelas ini dimulai dari pembuatan judul. Jadi kita buat judul dulu, lalu kami konsultasikan ke pembimbing. Setiap peserta harus mengajukan judul. Setiap judul kita bedah bersama-sama tentang esensi judul itu sudah benar atau belum benar. Pertemuan selanjutnya menentukan tujuan, rumusan masalah, dan seterusnya sampai selesai.

Kebetulan saya ditunjuk sebagai koordinator sehingga saya harus memantau kegiatan. Tapi tak lepas dari itu kerja sama tim sangat solid, sehingga kami bagi tugas dan kompak kami dapat melampui tujuh bulan menyelesaikan satu karya ilmiah berupa Penelitian Tindakan Kelas. Kami dapat sertifikat yang mempunyai nilai poin yang tinggi untuk kenaikan tingkat kami.

Tapi ini tak berakhir. Setelah selesai pendampingan penelitian ada undangan lagi untuk publikasi ilmiah atau pembuatan jurnal. Karya ilmiah yang telah kita buat tadi kita jurnalkan. Untuk pembuatan jurnal dan publikasi juga perlu latihan.

Dengan bimbingan yang intensif oleh pembimbingnya sudah bisa dikatakan tua, namun semangat masih empat lima meski sudah berumur tujuh puluh tahun ke atas. Saya salut kepada beliau tentang daya ingat beliau dalam menghafal teori-teori yang beliau pelajari masih membekas dan hafal di luar kepala. Saya terbelalak mendengarkan kekuatan hafalan beliau dan terinspirasi oleh beliau. Dengan kesabarannya beliau membimbing, memotivasi, dan merevisi sehingga sampai dapat dipublikasikan di suatu  majalah.

Berbulan-bulan  sudah saya menunggu kapan saya mempunyai karya dan dapat dipublikasikan. Setiap majalah diterbitkan, saya selau bertanya-tanya apakah ada nama saya di sana. Pada bulan September 2019 jurnal saya dimuat di majalah.

Hati berbunga-bunga ketika karya dipublikasikan. Inilah karya pertama saya yang menginspirasi saya sebagai penulis. Bahwa saya bisa, asalkan mau bersungguh-sungguh. Tidak ada kata tidak bisa bila mau belajar. Saya teringat yang beliau katakan, “Masak generasi muda kalah dengan generasi tua.” Inilah yang membakar semangat saya. Ini beliau katakan di saat saya rapuh dan banyak problem yang terus menerus beriringan silih berganti bahkan bertubu-tubi.

Saya merasa nyaman berdiskusi dengan beliau, saya utarakan keluh kesah saya. Beliau dengan bijak menghibur dan  memberi motivasi. Sungguh saya sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang begitu baik sebagai karunia Allah yang tiada nilai harganya.

Di saat kehilangan pegangan kendali, menulis menyembuhkan luka-luka dan emosi. Dengan menulis di kertas mencurahkan isi hati terasa lepas semua beban yang menggantung.

Dengan mengekspresikan emosi kita pada tulisan, sebagai wahana penyaluran (katarsis) emosi kita. Saat sedih tulis kesedihan. Saat marah yang memuncak tulis kemarahan itu sehingga yang membacanya ikut merasakan. Saat bahagia, ekspresikan dengan tulisan yang membahagiakan pula

Selain itu juga, di sekolah saya bergelut dengan buku-buku di perpustakaan dan mengikuti kegiatan yang diadakan oleh dinas perpustakaan daerah. Dengan bergabung forum perpustakaan  kita bertemu dengan orang-orang hebat dan penulis-penulis hebat. Suatu nikmat yang tiada bisa dinilai dengan materi belaka.

Kegiatan perpustakaan yang menggiatkan dan menggalakkan literasi, baik di sekolah, di desa, maupun di taman baca. Dengan program-program perpustakaan yang menggalakkan minat baca dan diadakannya lomba perpustakaan desa dan perpustakaan sekolah, sekolah kami mengikuti lomba perpustakaan sekolah dan masuk 10 nominator terbaik. Walaupun perpustakaan di desa, ini sebagai apresiasi yang menggembirakan dan memotivasi saya untuk lebih maju.

Menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, agama, dan orang tua. Ini motivasi saya. Saya ingin membuat orang tua bangga dengan segala kekurangan saya yang dulu selalu menjadi pertentangan mereka. Allah menciptakan ciptaannya tidak ada yang sia-sia. Saya ingin mengharumkan Gresik khususnya dan negara kita pada umumnya. Saya juga ingin memjadi penulis terkenal dan menginspirasi semua  insan.

Dalam perjalanan kiprah di perpustakaan sekolah mengalir ketika mengikuti kegiatan pelatihan di perpusda, bertemu dengan organisasi kepenulisan buku ternama seperti Forum Lingkar Pena. Pada saat itu Kak Rafif yang mengisi materinya tentang puisi. Di  FLP  menerbitkan antologi kemudian saya masuk  Komunitas Rumah Menulis  yang menerbitkan antologi puisi guru dengan siswa. Awalnya memberi tugas kepada murid saya baca-baca bagus juga. Rencana saya bukukan untuk buat kliping atau apa untuk memperbanyak koleksi di perpustakaan sebagai hasil karya siswa. Sungguh tiada menduga bertemu  pujangga ternama yang bersedia menyapu karya yang berserakan untuk dijadikan sebuah buku yang diterbitkan.

Sampai pada akhirnya mengikuti #60HMB Batch 4 ini informasi dari teman. Bersama Kak Rafif yang sangat menggemaskan dalam pemberian bimbingan, tugas yang sangat menantang. Kendatipun demikian kita merasa terpanggil dan tertantang untuk mengikuti dengan semangat yang membahana.

*Peserta #60HMB Batch 4
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel