Nasihat Pak Tua pada Penulis

Silakan ketik kata kunci

Nasihat Pak Tua pada Penulis


Oleh Roidah Afifah

Sudah sekian bulan aku tidak memgunjungi kios buku Pak Tua. Bukan! Bukan karena tidak lagi tertarik dengan buku-buku. Bukan juga karena tidak ada anggaran buku baru di bulan itu. Namun dunia hari ini makin beda, teknologi makin canggih, urusan beli buku bisa dilakukan dengan mudah tanpa perlu beranjak dari tempat duduk. Tidak perlu mengeluarkan uang bensin, tidak perlu capek mengendarai motor, tidak perlu repot berdandan untuk keluar rumah, tidak perlu bayar uang parkir, tidak perlu berpanas-panas melawan matahari, pun tidak perlu menghadapi ujian es degan dan baso di tengah-tengah perjalanan.

Lantas apa yang membuatku rela memarkirkan sepeda motor di halaman kios buku Pak Tua sore kemarin?

Ya, ada sesuatu hal yang hanya bisa kamu dapatkan di kios buku Pak Tua: obrolan dan diskusi di tengah-tengah aroma buku-buku tua.

Sore kemarin di depan kios buku Pak Tua, kami larut dalam obrolan tentang penulis-penulis tangguh yang karyanya masih dibaca dari masa ke masa. Seperti biasa, aku selalu menyiapkan buku kecil dan pena untuk mencatat kalau tiba-tiba Pak Tua mengeluarkan nasihat mutiara. Aku benar-benar tidak rela kehilangan kata demi katanya.

Sore kemarin untuk pertama kalinya aku menyampaikan salah satu impianku kepada Pak Tua. Impian yang selama ini aku pendam diam-diam, belum pernah aku ceritakan pada siapapun kecuali pada diriku sendiri, impian yang kadang aku sangsi apakah bisa diwujudkan mengingat standar yang kubuat sepertinya tampak di awan-awan.

Sore kemarin, aku beranikan diri menyampaikan kepada Pak Tua bahwa aku ingin menjadi penulis yang tulisannya dirindukan oleh para pembaca.

Sambil membetulkan duduk kaca matanya, Pak Tua bilang, "Nak, yang diperlukan oleh seorang penulis yang baik tidak hanya perbendaharaan kata yang berjuta-juta, tidak hanya ilmu menulis yang didapatkan dari ikut kelas-kelas mahal eksklusif.  Tidak... Tidak hanya itu, Nak."

"Seorang penulis yang baik harus memiliki hati yang baik juga saat menulis, hatinya harus selalu dekat dengan Rabbnya, hatinya harus selalu patuh, hatinya harus selalu rendah di hadapan manusia termasuk para pembacanya."

"Seorang penulis yang tulisannya saat dibaca bisa seketika membuat getar hati pembavanya, pastilah mempunyai hubungan yang istimewa dengan Tuhannya. Siapa coba yang mampu membuat hati  makhluk bergetar kecuali Tuhannya? Bukankah hanya Dia satu-satunya yang menggenggam hati masing-masing dari kita?"

"Menjadi penulis yang baik haruslah menjadi hamba Tuhan yang taat, Nak."

Seketika di kepalaku muncul berbagai pertanyaan, tantang kabar hati, tentang kabar iman.

Apakah seorang dhaif sepertiku masih punya kesempatan menjadi penulis yang tulisannya dirindukan, yang tulisannya mampu menyentuh dasar hati para pembaca? Sementara untuk sekadar bergegas memenuhi panggilan berdoa yang hanya lima waktu dalam sehari saja masih sering sibuk dengan urusan dunia?

Ghufronaka Rabbana...

Ponorogo 1441 H

*) Peserta 60HMB Batch 4, tinggal di Ponorogo
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel