Penulis Bukan Dilahirkan

Silakan ketik kata kunci

Penulis Bukan Dilahirkan


Oleh Mima Kareemah 

Penulis itu bukan dilahirkan tapi hasil belajar. Quote tersebut entah siapa yang mencipta. Tapi saya selalu mengenggam erat kalimat sakti itu di dalam dada. Dulu saya pikir menulis adalah bakat yang dimiliki oleh seseorang. Sehingga saya beranggapan bahwa tak semua orang bisa menjadi penulis. Namun belakangan saya mendapati bahwa siapa saja bisa menjadi penulis asal mau terus latihan, tanpa lelah tanpa bosan. Sebab tidak ada penulis yang tiba-tiba handal. Tentu ia telah melewati proses panjang dengan tantangan yang mungkin berliku dan terjal. Bakat hanya mengambil peran 1% dan 99% sisanya adalah latihan.

Di awal-awal biasanya ada rasa takut untuk mempublikasikan tulisan. Takut ada komentar yang tidak enak, takut ditertawakan, takut tak ada yang memberi likes, dan ketakutan lainnya. Saya pun dulu merasakannya. Tanyakan pada diri sendiri, untuk apa tujuan menulis? Menulis seyogyanya dilakukan untuk menebar kebaikan. Maka mulai saja, jangan menunda kebaikan. Mulai dari tulisan pendek hingga lambat laun menjadi tulisan panjang dan bermakna. Pelan tapi pasti. Yang penting tidak berhenti. Tak perlu risaukan jumlah likes yang tak seberapa. Menulis saja. Abaikan apa yang orang pikirkan tentang kita. Selama tidak menganggu dan tidak merugikan orang lain, semuanya pasti akan baik-baik saja. 

Tak perlu berubah menjadi orang lain hanya agar tulisan kita mendapatkan banyak atensi dari pembaca. Sebab setiap orang memiliki style menulis yang berbeda-beda. Temukan style kita sendiri. Sebagai pemula, saya memilih menuliskan hal-hal sederhana dengan bahasa yang sederhana pula. Tujuannya agar pesan yang saya sampaikan bisa dipahami dengan mudah oleh siapa saja. Tulisan saya hingga sekarang masih terkesan receh dan jauh dari kata memuaskan. Diksi yang saya pakai juga kadang membosankan.

Ternyata merasa bisa menulis saja tidaklah cukup. Saya masih harus terus meng-upgrade skill agar kualitas tulisan semakin baik. Bagaimana caranya? Saya mulai belajar dengan kawan-kawan yang sudah baik tulisannya, menemukan komunitas atau grup yang mendukung impian saya. Ini juga yang membuat saya memantapkan hati untuk bergabung dalam kelas menulis SMILE. Kelas yang dimentori langsung oleh sang founder Rafif Amir Ahnaf ini saya percaya akan mampu mengasah kemampuan menulis anggotanya menjadi semakin tajam dan terarah.

Bismillah, semoga bisa konsisten dan tak lelah berproses menghasilkan tulisan yang makin berkualitas dan sarat makna. Bukankah menulis bisa menjadi ladang dakwah dan amal jariyah? Maka inilah kesempatan saya.

*Peserta 60HMB Batch 4, tinggal di Gresik
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel