Review Buku Pribadi Hebat

Silakan ketik kata kunci

Review Buku Pribadi Hebat


Oleh Aisy*

"Kepada pemuda, bebanmu akan berat, jiwamu harus kuat. Akan tetapi, aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu." (Hamka)

Kutipan itulah yang menjadi pembuka pada sampul depan buku. Betapa kita menyadari semangat pada sebuah kata-kata yang mampu menjalari setiap inci bagian tubuh kita. Pemuda, seyogyanya menjadi tombak penentu pada laju kemajuan sebuah bangsa.  Oleh karenanya, pribadi yang ada dalam dirinya haruslah berasal dari sesuatu yang mulia nan berharga. Agar cita-cita besar tidak terhenti dan menjadi bualan serta angan semata.

Apa yang terpikirkan ketika pertama kali mendengar judul pada buku ini? Sosok yang selalu menjadi pemenang dan mampu mengalahkan segala rival dalam pertandingan? Sosok yang penuh dengan penghargaan tinggi dengan hasil pencapaian yang gemilang?

Sayangnya Buya Hamka tidak serta merta menyajikannya dengan cara yang menyenangkan. Pribadi hebat tidak dibentuk dari kehidupan yang manis dan penuh kemudahan. Pribadi hebat adalah mereka yang mampu menelan pahit untuk mau bekerja keras di atas kepentingan bangsa dan kaumnya. Mereka yang mampu memanusiakan manusia dan menjadi sepatuh-patuhnya hamba di hadapan Tuhannya.

Pribadi hebat adalah mereka yang bermata lebah. Sosok-sosok kuat yang senantiasa melihat keindahan, bahkan dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan. Jiwanya bersih jauh dari prasangka, lisannya tertata enggan berdusta, dan hatinya senantiasa terhubung dengan titah Tuhannya.

Tidak ada waktu untuk sekadar mencari kesalahan orang lain guna meninggikan derajat dirinya. Pribadi yang hebat akan sibuk dengan segala kewajiban-kewajiban yang bagi orang kecil hal itu sangatlah muskil untuk dilakukan. Mereka hidup dengan tujuan mulia, jelas visinya, kuat niat dan azamnya. 

Buya berkisah dalam buku ini beberapa tokoh dunia dari berbagi agama, bangsa, suku, dan latar belakang yang berbeda. Bagaimana cara mereka menjaga integritasnya sebagai seorang pribadi, pun sebagai seorang yang patut diteladani bangsanya sendiri. Wibawanya terpancar kuat karena kuatnya pendirian yang menancap dalam hati. Tetapi hatinya halus dalam menerima nasihat dan perbedaan yang ada dalam diri orang lain. Baginya, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda sesuai atas dasar pendiriannya dan karena perbedaan itulah mereka ada.

Buya memang tidak memberikan langkah atau tips khusus yang harus kita ikuti untuk menjadi pribadi hebat, tetapi setiap kisah dan pelajaran yang ditorehkan dalam tulisannya seolah meminta kita untuk mampu memaknainya lebih dari sekadar tulisan. Bahwa pribadi hebat sesungguhnya selalu ada dalam diri setiap manusia, hanya saja tidak semua orang "mau" untuk mewujudkannya.

Buku setebal kurang lebih 177 halaman ini mampu membangkitkan semangat yang berapi-api dalam diri pembacanya. Penyajiannya yang padat serta dikemas dalam fisik yang mungil (cukup tipis) membuat pembaca yang tidak terbiasa membaca akan terasa ringan menyertakannya dalam waktu-waktu luang mereka. Meski tentu "isi" dalam buku ini selalu memuaskan ekspektasi saya atas diri seorang Buya Hamka. Seperti kata Kak Rafif Amir Ahnaf dalam bincang buku di kanal Youtube-nya, buku ini memang sangat bergizi, hampir seluruh isinya laksana makanan daging yang mampu menjadi pembangkit energi. Highlighter (stabilo) yang senantiasa menemani saya bergelut dengan buku ini, tidak henti-hentinya menari pada setiap baris yang tertangkap dalam pandangan mata saya.

Buku ini saya rekomendasikan tentu untuk semua usia, tidak hanya pada kalangan pemuda. Karena Buya pun menggambarkan bahwa patokan "muda" tidak pantas jika dibatasi pada angka dan usia. Muda adalah gambaran dari semangat yang tersemai dalam diri setiap pribadi, tidak peduli berapa lama pun hidup telah memangkas dirinya selama berada di bumi.

*Peserta 60HMB Batch 4, tinggal di Gresik
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel