Sebuah Pengakuan Hati

Silakan ketik kata kunci

Sebuah Pengakuan Hati


Oleh Almaidatul Istibsyaroh

Rasa syukur yang teramat dalam saya haturkan kepada seorang wanita yang menjadi motivasi pertama saya dalam menulis, almarhumah ibu saya. Semoga Allah tempatkan beliau pada tempat terbaik-Nya. Jutaan ucapan terimakasih dan bahkan lebih dari itu, tentu untuk seorang lelaki yang tertakdir untuk menjaga saya, suami saya tercinta. Semoga Allah selalu menjaganya pula dalam ketaatan kepada-Nya. Meskipun beliau sempat melarang saya melanjutkan hobi menulis ini hanya karena semua adalah imajinasi semata. Sejujurnya, memang menulis non fiksi bukanlah kemahiran saya. Bahkan dalam perjalanan menuju tidur satu judul cerita bisa saya imajinasikan namun entah menulisnya kapan. Beliau punya alasan dan saya menerimanya meski saat itu agak berat. Akhirnya, batu yang keras itu pun berlubang oleh tetesan air hujan yang istiqamah. Dua belas tahun lebih kemudian saya pun diizinkan untuk kembali kepada dunia saya sebelumnya, menuangkan semua imajinasi dalam sebuah karya yang tak boleh sia-sia. Itulah syarat utamanya. Pisau yang pernah tajam itu telah tumpul, namun saya takkan berhenti mengasahnya meski telah terenggut usia.

Ribuan terimakasih tentu untuknya, mantan ketua FLP Jember, mantan ketua FLP Jatim, yang masih belum terhapus dalam memori saya tentang sebuah paksaan terhadapnya untuk melanjutkan sebuah perjuangan dakwah bil qalam di kota tapal kuda saat itu. Dialah sang pujangga yang selalu memberikan kisah-kisah inspiratif untuk siapa saja yang menghendakinya, Rafif Amir Ahnaf. Sejak keluar dari status mahasiswa, saya berhasil menghilang dari peredaran dan berganti panggilan. 

Tibalah takdir yang tak pernah saya sangka sebelumnya. Sekolah Bintang, SDIT Al Ibrah di mana telah berkenan menampung saya untuk menabur sedikit manfaat yang ada dalam diri saya dan tentu bersedia menjadi ladang untuk belajar saya, telah mengundang beliau. Pertemuan pertama saya sejak sepuluh tahun lebih berpisah dengannya, seorang adik yang santun, penuh senyum, dan taat pada kakak organisasinya. Melihatnya kala itu begitu bangga. Ah, dulu ia sering aku bully karena ikhwan sendiri, sekarang telah merunduk bagai padi karena ilmunya yang semakin tinggi. Dan, saya semakin malu menemuinya bahkan sekadar menyapanya. Qadarullah, saya sedang mencari anak saya dan suara itu memangil nama panggilan saya di masa lalu. Tersentak. Ya Tuhan, akhirnya aku betatap muka dengannya. Ia berusaha menarik kembali kakaknya yang sudah sangat jauh darinya dan kini berhasil kembali masuk ke dalam sebuah lingkaran menulis bersamanya. Alhamdulillah.

Selanjutnya, untuk semua sahabat di sebuah WAG literasi sekolah khususnya suhu Mima Rahdian, yang tentu tak mudah mencipta tema setiap harinya untuk bahan menulis kita semua. Semoga Allah membalas niat juang Anda dan berhasil di kedepannya. Untuk yang lainnya, Yunda Nuryum Saidah, Ibunda Roikhatul Jannah, Kak NIkmah Al Barri Maahir dan Wahyu Utami, Dek Siti Aisa Siti Aisah Aziz dan Icha Hamoud, ini adalah sebuah awal saja semoga kelak apa yang menjadi impian kita untuk sekolah tercinta segera terwujudkan atas izin dan ridha-Nya. Aamiin.

Tidak ada gading yang retak, sebagaimana tidak selalu ada udang di balik bakwan. Inilah sebuah pengakuan yang penuh keharuan. Saya menuliskannya dengan tinta kejujuran dan hati yang lapang tentunya dengan doa di sepertiga malam dalam bulan yang penuh kemuliaan. Semoga Allah berkenan menjadikan setiap tulisan kita bermanfaat bagi siapapun yang membacanya dan akan menjadi jariyah kebaikan ketika kita telah meninggalkan dunia menuju rumah keabadian-Nya.

Kami nantikan episode selanjutnya tentu saja. Mau dibawa kemana kita semua…

*Alumni 60HMB Batch 3, tinggal di Gresik
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel