Sepekan Bersama SMILE

Silakan ketik kata kunci

Sepekan Bersama SMILE


Oleh Aisy

Sekolah menulis online yang saya ikuti menuntut diri saya untuk mau dan harus menulis setiap hari. Bagi diri saya pribadi yang memang menyukai dunia literasi, ini merupakan awalan yang baik sebagai bahan pembiasaan diri. Meski biasanya saya hanya menulis pada momen-momen tertentu yang meminta diri saya untuk mau mengabadikannya.  Memasuki challenge hari ke delapan, saya mulai merasa gelagapan. Hingga saat tidur pun jika ide itu tetiba muncul, saya akan langsung menuliskan pada note berupa kerangka tulisan.

Jika biasanya saya adalah orang yang sangat terstruktur dan tidak pandai mengelola spontanitas, kini berbeda. Tantangan menulis membentuk pribadi saya untuk mau mengadopsi apapun entitas dan fenomena yang terjadi di sekitar kita untuk kemudian saya kemas menjadi tulisan yang berkelas. Sebagai seorang yang idealis saya sangat menimbang apapun yang ingin saya tulis. Apakah bermanfaat? Jika bermanfaat untuk siapa? Untuk saya pribadi atau sebagian orang, bahkan mungkin banyak orang? Dan dari sudut pandang mana saya akan menyajikannya?

Karena bagi saya nantinya apa yang kita tulis itu akan menjadi rekam jejak diri kita setelah tiada. Dan tentunya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan pemilik alam semesta. Lalu tulisan seperti apa yang ingin kita sajikan nantinya itu adalah mutlak menjadi hak prerogatif diri kita. Hal apa yang ingin kita tinggalkan bagi sesama? Kebermanfaatan atau hanya kesenangan sesaat tanpa kebaikan?

Sepekan bersama SMILE saya rasakan diri saya seakan mendapat sengatan energi positif. Memang benar, setiap kali belum menyetorkan tulisan rasanya seperti saya sedang dikejar hutang yang meminta untuk segera dibayar. Setiap hari saya menggali, ide apa yang bisa saya sajikan hari ini. Berkaca pada setiap hal yang mungkin saja terjadi, mengadaptasi getar rasa yang lingkungan berikan pada diri saya pribadi. Saya biarkan rekam jejak tulisan saya mengalir begitu saja, bukan lagi pada setiap momen khusus yang ingin saya bagi.

Hari ini memasuki Hari Raya ke dua, masih dengan tema maaf memaafkan. Saya ingin menyajikan tulisan dari sudut pandang yang lain. Jika beberapa hari saya berusaha menyerap energi yang alam dan dunia berikan, hari ini izinkan saya untuk memulai berkaca pada diri saya pribadi. Tentang bagaimana setiap manusia yang seharusnya lebih bisa memaafkan diri sendiri, sebelum mereka memburu maaf pada seluruh teman dan sanak famili.

*Peserta 60HMB Batch 4, tinggal di Gresik
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel