Writing is Healing

Silakan ketik kata kunci

Writing is Healing


Oleh Wulanir Rahmah
Bunga mawar
Warnamu merah
Baumu harum
Kau cantik dan indah
Itulah sepenggal puisi yang saya tulis di kelas 1 SD. Bu Emi guru kelas 1 kami memberi tantangan kepada siswanya yang berjumlah 25 orang di kelas. “Siapa yang bisa membuat puisi dan mengucapkannya di depan kelas dengan menghafal bisa pulang nomer 1.”
Entah kenapa saat itu hal pertama yang terpikir di kepala adalah bunga, yah namanya juga perempuan, tema yang mudah dibayangkan adalah bunga, hehe. Kami mulai menulis kata per kata dari puisi buatan kami. Tapi setelah jadi tidak semua teman-teman punya nyali mengucapkannya di depan kelas, merasa malu, takut kalau-kalau diketawain.
Ah ini kan tiket pulang cepat, pikir saya dan langsung angkat tangan. Ehm tidak mudah juga berdiri di depan kelas dan mengeluarkan suara dengan lantang, tapi akhirnya itu bisa dilewati dan saya bisa pulang lebih dulu. Saat berjalan menyusuri beberapa gang, betapa diri ini merasakan kepuasan dan kebanggaan, oh ternyata bisa juga. Pengalaman itu membuat belajar untuk yakin dan percaya diri bahwa saya bisa membuat karya, meski ala anak kelas 1 SD.
Selepas SD kami pun berpisah, karena harus naik jenjang ke sekolah lanjutan pertama. Perpisahan dengan teman-teman lebih terasa berat karena saya harus bersekolah di luar kota untuk masuk pesantren.
Di SMP tempat saya belajar, jam masuk kelas 1 siang-sore, karena kelas sebelumnya dipakai oleh kakak kelas 3. Kebetulan sekolah kami berhadapan dengan alun-alun dan dekat dengan jalan raya. Posisi kelas paling dekat dengan jalan raya, sehingga ketika menengok ke arah jendela akan terlihat kendaraan lalu lalang, baik yang dikendarai oleh orang dalam kota atau luar kota.
Entah kenapa saat saya melihat kendaraan terutama bis yang lewat, rasa haru menyeruak. Tidak jarang pula meneteskan air mata, dalam hati pun berkata, “Aku ingin pulang…”, karena demikian kangen dengan orang-orang terdekat yang selama ini ada.
Itu saya alami kurang lebih 1 bulan, pokoknya waktu itu rasanya berat karena belum move on dari bonding emosi dari orang tua, adik dan sahabat-sahabat. Saat itu telepon menjadi hal yang masih jarang dimiliki, sarana yang bisa dilakukan untuk tetap saling menghubungi hanyalah berkorespondensi lewat surat.
Mulailah saya menulis surat khususnya untuk teman-teman, karena orang tua setidaknya bisa satu bulan sekali bertemu. Kebetulan letak sekolah berdekatan dengan kantor pos besar. Pada waktu berangkat sekolah, sekalian mampir dulu ke sana, untuk memasukkan ke kotak pos surat-surat yang dikirimkan ke beberapa teman. Beberapa minggu saya tunggu balasan dari mereka, karena di akhir surat tertulis “miss u”, “balas ya”.
Menunggu dengan harapan besar semoga surat dibalas, dengan harap-harap cemas. Melihat ke kotak surat yang ada di kantor sekolah menjadi jadwal rutin tiap hari, karena saya telah berpesan, agar balasannya lewat sekolah saja.
Dan tibalah saat itu, balasan pertama surat dari teman saya terima. Bahagia rasanya membaca surat dari mereka. Saat mereka juga menceritakan kabar tentang dirinya, cerita tentang sekolahnya, keluarganya, teman-teman kami yang lain saat di SD. Sungguh cerita-cerita mereka demikian menghibur, sehingga mampu mengobati rasa kangen dan membuat tersenyum ketika membaca tulisan mereka.
Saya bersyukur meski kami tidak bisa bertegur sapa secara langsung, namun masih bisa saling berkabar lewat surat. Tidak hanya kabar saja yang kami bahas, tapi juga saling curhat atas semua masalah yang kita alami, atau menceritakan tentang kegiatan yang sekarang sedang ditekuni. Ada salah satu teman saya yang sedang berkompetisi menjadi pengurus OSIS sekolah, ada yang sedang asyik dengan hobinya menjadi penari. Banyaklah yang menjadi bahan obrolan di surat-surat tersebut.
Saling berkirim kabar lewat surat berlanjut ketika kami masuk ke SMA. Kami saling bercerita tentang hal-hal yang seru di masa-masa pubertas, tentang kekaguman pada seseorang. Tentang pelajaran yang makin rumit di SMA, tentang organisasi yang kami ikuti. Tentang cita-cita kami selepas SMA, mau ambil jurusan apa, kuliah dimana, dan tak jarang juga saling menasehati untuk tetap fokus pada tujuan masing-masing. Dan tetap mencari teman-teman bergaul yang baik, yang bisa saling menyemangati seperti persahabatan kami.
Surat-surat yang saya terima dari teman-teman, tersimpan dengan rapi dalam sebuah kotak lengkap, dengan amplop dan perangko yang masih tertempel. Kadang masih dibaca untuk memuaskan rasa rindu terhadap sahabat-sahabat.
Sayangnya, saat kuliah kumpulan surat itu hilang dan mungkin sudah terbuang bersama tumpukan kertas-kertas yang tidak terpakai di rumah. Tapi itu tidak mengapa, karena saya sudah membawa tulisan dan kenangan bersama para sahabat di dalam hati.
Betapa menulis telah membantu seseorang. Yang sedang mengalami sedih, kecewa, galau untuk melepaskan semua emosi negatif yang dirasakannya menjadi nyata. Selain saya tentu ada banyak cerita tentang menulis yang mampu menyembuhkan.
Siapa yang tidak kenal bapak teknologi Indonesia, Prof. DR. Eng BJ. Habibie yang telah berpulang ke rahmatullah setahun lalu. Kisah dalam bukunya berjudul Habibie dan Ainun sangat masyhur, bahkan dirilis juga film dan soundtrack yang mengaduk-aduk emosi. Menggambarkan kekuatan cinta Habibie dan Ainun, sehingga disematkan kepada mereka contoh dari cinta sejati.
Tahukah Anda bagaimana cerita di balik layar saat buku itu ditulis oleh mendiang Bapak Habibie, beberapa bulan sejak istri beliau, ibu Ainun wafat karena sakit kanker. Di dalam buku itu menceritakan tentang kisah cinta antara Pak Habibie dan Ibu Ainun mulai dari perjumpaan pertama, pernikahan, keseharian mengarungi rumah tangga sampai maut memisahkan mereka.
Saat Ibu Ainun wafat, Pak Habibie masih merasa istrinya berada di dekatnya. Beliau seperti memasuki dimensi lain di setiap sudut rumah karena matanya masih terbayang sosok istrinya. Kita mungkin sudah banyak tahu betapa terpukulnya Bapak Habibie saat itu.
Menurut cerita beliau yang diungkapkan di sebuah wawancara, dokter yang menangani memberikan 3 opsi kepada beliau, yang pertama mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit jiwa. Kedua, mendapat perawatan intensif di rumah dengan konsumsi obat-obat secara disiplin. Dan yang ketiga, mendapat perawatan di rumah ditambah menuliskan isi hatinya. Maka dipilihlah opsi ketiga dari dokter, mulailah beliau menulis puisi dan doa yang pernah dibuat oleh mereka berdua.
Tak berlebihan jika tiap hari setiap halaman yang ditulis itu, dibarengi dengan air mata yang tumpah. Oleh karenanya, hadirnya buku ini telah menutupi kekosongan jiwa beliau dari hari ke hari, bulan ke bulan mengikuti perjalanan sang waktu. Sampai akhirnya Bapak Habibie dinyatakan dokter telah mampu melewati masa kritisnya.
Menulis juga banyak digunakan untuk terapi dalam mengungkapkan emosi yang dirasakan menyesakkan dada. Karena dengan menulis kita bisa melepaskan satu-persatu ikatan emosi yang membelenggu diri. Sejatinya penyembuhan itu adalah sebuah proses yang harus sabar untuk dijalani.
Menulis seperti berbicara kepada diri sendiri, apa yang sedang kita pikirkan, kita alami, kita khawatirkan. Kemudian kita akan mencari cara keluar dari setiap permasalahan melalui tulisan kita melalui dialog-dialog yang kita susun dalam pikiran kita. Bukankah penyembuhan terbaik berasal dari proses sadar yang hadir dalam diri tiap orang.
Menulis juga dapat memunculkan kreativitas yang masih berada di dalam otak kita. Lalu kita tuangkan melalui ungkapan-ungkapan kita secara berurutan. Saya hanya berpikir suka terhadap bunga mawar yang indah dan harum baunya. Dan ternyata itu menjadi karya puisi yang bisa menjadikan saya membawa tiket pertama pulang sekolah.
Saya menyemangati diri untuk terus menulis. Menebar manfaat melalui tulisan sebagai ladang amal untuk berbagi kebaikan dengan sesama. Menulis juga dapat disebut sebagai sebuah bentuk warisan, bahkan tidak pernah habis terkikis. Kita banyak belajar nilai-nilai luhur dari banyak tokoh yang memahat prasasti buah pikirannya melalui tulisan.
*Peserta 60HMB Batch 4
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel