Merawat Motivasi

Silakan ketik kata kunci

Merawat Motivasi


Oleh Ristiono Banghaji

"Banyak orang ingin menjadi penulis, akan tetapi baru dihadang sedikit badai, telah angkat tangan. Baru diguncang sedikit ombak, telah mendaratkan perahu.” (Afifah Afra)

Kalimat di atas menghantam keras tepat ke dada saya. Membuat saya tersadar dan termotivasi kembali untuk menjadi seorang penulis. Menjadi seorang penulis itu gampang-gampang susah, apalagi bagi seorang pemula seperti saya. Jika membaca riwayat beberapa penulis ternama yang sudah menghasilkan puluhan karya yang best seller. Mereka mengawali karir kepenulisannya sejak dini. Maksud saya, mereka sebelumnya memang hobi menulis, minimal suka menulis di buku diary. Misal, Mbak Afifah Afrah. Sejak SD beliau sudah mengenal dunia tulis-menulis, selain membaca sebagai hobinya. Seperti yang beliau sampaikan dalam pengantar bukunya, “ ... Akhirnya, saya pun mulai mencoba-coba menulis cerita sendiri untuk saya nikmati sendiri. Di sinilah mulai ada perbedaan yang nyata antara saya dengan saudara-saudara saya. Jika saudara-saudara saya merasa cukup sampai membaca maka saya melanjutkan dengan menulis.” (Be A Brilliant Writer, hal. 19)

Kesuksesan beliau tidak terlepas dari peran orang tua beliau, terutama sang ayah yang luar biasa dalam mendidik dan mengenalkan beliau pada buku. Yang masih penasaran bisa membaca langsung buku Mbak Afifah Afra ya.

Apalagi kalau saya membaca biografi Bunda Helvi Tiana Rosa (HTR) dan Bunda Asma Nadia. Penulis favorit saya. iapa yang tidak mengenal kiprah beliau berdua? Dua bersaudara yang karya-karyanya malang melintang di dunia persilatan, eh dunia kepenulisan. Karya-karya beliau mampu menginspirasi banyak orang. Beliau juga pendiri forum lingkar pena (FLP). Organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia. FLP sudah melahirkan puluhan bahkan ribuan penulis baru.

Sedangkan saya, anak dusun yang sebelumnya tidak pernah mengenal dunia tulis-menulis. Menulis di buku diary saja gak pernah, bahkan sampai sekarang. Tapi keinginan kuat itu terus menyala-nyala di dada. Bertekad untuk menjadi penulis dan bisa menghasilkan karya besar seperti beberapa tokoh yang saya sebut di atas. Tidak ada kata terlambat dalam memulai sesuatu, selama ada niat kuat pasti ada jalan.

Dorongan kuat menjadi penulis sejak dibangku STM, akhirnya  mulai saya wujudkan. Diawali  dengan mengikuti kelas menulis. Saya bergabung dalam sekolah menulis online (SMILE). Semenjak gabung dalam kelas SMILE, saya mulai menemukan titik terang, jalan untuk menjadi penulis terbentang luas di hadapan.

Gemblengan dan motivasi yang diberikan oleh Kak Rafif sebagai mentor kami, melecut semangat kami untuk terus menulis dan berkarya. Challenge dan tugas yang diberikan senantiasa membuat saya dan teman-teman dagdigdug dibuatnya. Dan yang luar biasa lagi saat sesi kelas kedua hari kamis kemarin, kami ditantang oleh Kak Rafif untuk menulis cepat selama sepuluh menit tanpa berhenti mengetik.

“Abaikan dulu yang lain, fokus. Sepuluh menit saja. Aturannya jelas: gak boleh berhenti mengetik, gak boleh jeda, abaikan typo, bahasa, dan lain-lain.  Jika ada aba-aba MULAI dari saya, silakan mulai mengetik.” Begitulah instruksi dari Kak Rafif. Saya dan teman-teman langsung tancap gas saat aba-aba “MULAI" muncul di layar handphone. 

Di tengah keasyikan saya menulis, muncul kata “ENTER” dari kak Rafif, yang menandakan waktu mengetik telah habis. Wah lega. Jangan tanya hasilnya bagaimana, lumayan ancur, ambyar, hahaha. Huruf-hurufnya gak beraturan, banyak typo, saya berhasil mengetikan 133 kata. Teman-teman malah ada yang 200-400 kata. Luar biasa.

Dari challenge tersebut, banyak hal yang saya dapat, salah satunya adanya perasaan plong bisa menuangkan isi kepala dengan cepat tanpa jeda, tanpa terpaku pada aturan. Yang penting tulis dulu semua idenya,  editnya nanti saja. Menulis itu kerjaan otak kanan, edit kerjaan otak kiri, jangan menggabungkan kedua fungsi tersebut saat kita menulis. Begitu nasihat selanjutnya dari Kak Rafif. 

Amazing, Luar biasa dedikasi kak Rafif dalam mendidik kami semua. Motivasi saya makin terpacu, makin sering baca buku, karena membaca adalah senjatanya seorang penulis. Alhamdulilah semakin kebayang ide buku yang akan saya tulis. Tinggal merawat ide dan mengolahnya menjadi tulisan yang enak dibaca,  indah dan bermakna. Aamiin.

*Peserta #60HMB Batch 4, tinggal di Belanda
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel