Penulis dan Jam Terbangnya

Silakan ketik kata kunci

Penulis dan Jam Terbangnya


Oleh Nuryum Saidah

Siapa yang tidak mengenal Helvy Tiana Rosa,  Asma Nadia,  Maimon Herawati, Afifah Afra,  A.  Fuadi, Tere Liye, dan sederet penulis lainnya.  Mungkin,  banyak dari kita tidak mengenal mereka secara langsung.  Kita lebih banyak mengenal mereka melalui berbagai karyanya.

Ketika membaca sekilas biografi mereka, bahwa proses mereka bisa menuangkan kata-kata dengan indahnya,  membuat ramuan kalimat-kalimat yang mampu menyihir pembaca untuk membaca buku mereka hingga tandas, bukan perkara yang mudah.  Ada proses panjang yang dilalui mereka.  Bukan satu atau dua tahun saja,  mereka berkecimpung, hanyut dan menyelami dunia kepenulisan. 

Sebut saja Afifah Afra yang di dalam bukunya yang berjudul How To Be Smart Writer,  dia menceritakan bahwa butuh puluhan tahun untuk belajar menulis. Meski demikian,  dia tidak pernah berhenti menulis. Tulisan fiksi dan non fiksi yang dihasilkannya sama bagusnya.

Atau sebut saja, A. Fuadi dengan karya perdananya yang berjudul Negeri 5 Menara yang disambut gegap gempita dan menjadi best seller.  A. Fuadi memulai debut menulisnya sejak bangku SMA di Pondok Madani dan terus berlanjut hingga menjadi wartawan Voice of America,  seperti yang di tuturkannya di buku Rantau 1 Muara.  Artinya,  dasar-dasar kepenulisan sudah mengakar di kepalanya sejak bertahun-tahun lamanya.

Bagaimana pula dengan seorang Pipiet Senja, seorang penyitas thallesemia yang sejak kecil sudah tertarik menulis.  Bahkan membuat karya perdananya dengan tulisan tangan dan mesin ketik tua.  Di usianya yang sudah senja dan di tengah perjuangannya sebagai penyitas thallesemia,  dia terus menulis,  menulis, dan menulis.

Demikian para penulis menjalani hari-harinya. Ada proses panjang yang dilalui,  ada perjuangan dan belajar yang tak kenal henti. Tentu semua itu tidak mudah.  Tapi ternyata bisa,  mereka sudah membuktikannya. 

Menjadi penulis bukan cita-cita banyak orang. Apalagi menjadi penulis terkenal dan handal. Mungkin terpikir, sudahlah jadi penikmat saja. Mengapa harus bersusah-susah.  Sedangkan usia juga sudah tak muda.  Namun,  mengapa tidak mencoba?  Setidaknya menulis untuk membuat sejarah tentang diri sendiri.  Menulis untuk mewariskan ide dan gagasan. Menulis untuk menyebar kebaikan. Meski jasad telah tiada,  namun karya tetap ada dan hidup bersama anak cucu kita. 

Memang tidak semua penulis menjadi penulis terkenal dan karya nya menjadi karya yang fenomenal.  Karena itu memang bukan tujuan. Bertumbuh dengan terus belajar,  menebar kebaikan lewat tulisan adalah salah satu poin yang diinginkan.

*Peserta #60HMB Batch 4
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel