Saat Ide Datang

Silakan ketik kata kunci

Saat Ide Datang


Oleh Aisy

Setiap penulis tentu memiliki cara tersendiri untuk memancing imajinasi atau ide yang akan dituangkan sebagai buah tulisannya. Beberapa dari mereka ada yang menggunakan cara "observasi di tempat", artinya tulisan mereka justru akan terkesan "hidup" ketika mereka menulisnya tepat pada suasana dan lokasi yang hendak digambarkan dalam tulisan. Saat akan menggambarkan keramaian sebuah pameran, maka dia kunjungi pameran tersebut untuk mendapatkan sensasi kehidupan dalam menuangkan idenya melalui tulisan. Keberadaan raganya mampu membuat jiwa si penulis melebur dalam suasana yang menjadikan tulisannya sesuai dengan keadaan dunia nyata.

Ada pula mereka yang membutuhkan ketenangan dalam menulis, sehingga menyendiri dan menyepi untuk berkhalwat dengan alam justru memberikan mereka formula berharga untuk terus menemukan ide yang sedang ingin ditulisnya. Mereka membutuhkan kesadaran penuh dengan keadaan yang prima sebelum dirinya tenggelam bersama petikan tulisannya. Saya sendiri termasuk tipe yang kedua. Dan sungguh ini sangat menyulitkan, ketika dalam beberapa situasi saya tidak bisa bersahabat dengan keadaan lingkungan tempat saya tinggal.

Saat bekerja di sekolah misalnya, sangat sulit bagi saya untuk mulai menulis ketika ada suara interaksi berbagai pihak yang sedang berkomunikasi dengan sesamanya. Saya membutuhkan tempat khusus untuk diri saya sendiri, berkawan dengan sepi dan menyerap segala energi yang alam berikan. Atau ketika sampai di rumah, kondisi tubuh saya yang sudah lelah seharian tersebab pekerjaan di luar rumah. Kondisinya sudah tidak bisa ditolerir untuk mulai menulis. Meski ide-ide itu sudah berjumpalitan minta dikeluarkan menjadi butir-butir tulisan. Saya hanya mampu menulis poin pentingnya saja, tanpa sanggup merangkai atau sekadar meneruskannya.

Sepulang kerja saya harus istirahat, membiarkan kondisi tubuh saya kembali seperti sediakala. Istirahat tidak perlu lama, satu jam asalkan berkualitas sudah mampu mengembalikan kesegaran raga dan pikiran saya untuk mulai kembali bekerja. Bekerja menyelesaikan ide-ide tulisan yang sejak tadi sudah menunggu untuk diselesaikan.

Persis seperti yang disampaikan mentor menulis saya, Kak Rafif, bahwa ide itu muncul ketika pikiran kita sedang dalam kondisi rileks. Tenang, tiada tekanan dan tidak dalam kondisi terburu-buru karena keadaan. Hal itu pun bekerja pada diri saya, tidak hanya pikiran tetapi kondisi tubuh saya pun harus dibuat serileks mungkin. Maka semua untaian kata itu akan mengalir begitu saja.

Terkadang saya menggunakan malam-malam panjang untuk dijadikan sebagai "waktu pamungkas" me time saya bersamanya (menulis). Kadang juga jika kondisi senantiasa tidak juga memungkinkan, saya akan mengasingkan diri di lantai 2 rumah saya. Memandang langit, bersama hamparan rumput yang mulai menghijau karena diguyur air hujan. Seperti saat ini, saya menulis sembari duduk di atap rumah memandang daun pisang yang menari-nari bersama sejuknya angin senja. Luar biasa segar.

Kini perlahan saya mengerti, akan hal-hal yang pernah dirasakan para penulis favorit saya dalam merampungkan tulisan mahakaryanya. Seperti Buya Hamka yang menyelesaikan Tafsir Al-Azhar saat dibui di dalam penjara. Atau Eyang Pram yang menuliskan tetralogi Pulau Buru saat diasingkan di pulau seberang.

Semua orang berhak memilih jalannya, mengenali apa yang menjadi kelebihan dirinya untuk dimaksimalkan guna kebermanfaatan bagi sesama. Menjadikan segala hal yang terkesan sempit dan membosankan justru diubahnya sebagai kesempatan untuk membuahkan sebuah mutiara kehidupan. Saya bersyukur di luar tampilan saya yang terkesan "kesepian", justru bersamanya saya bisa bebas berekspresi bersama sesuatu yang justru menyegarkan. Sesuatu yang saya harap tidak hanya bermanfaat bagi diri saya sebagai pelepas kepenatan riuh rendah dunia luar, tetapi benar-benar memberi secercah harapan bagi setiap orang atas rangkaian aksara yang saya tuliskan.

Pentingnya mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri tentu sangat dibutuhkan. Kelebihan yang kita kenali bisa kita maksimalkan untuk kehidupan kita sendiri pun orang lain. Sementara mengenal kekurangan apa gunanya? Tentu bukan untuk menutupinya supaya selalu dipandang sempurna. Tetapi agar kita mampu mengelolanya sehingga tidak terus berlarut-larut menjadi hal yang tidak berguna.

Saat saya mengerti bahwa kelemahan saya dalam menulis adalah sulitnya berkonsentrasi dalam keramaian. Lalu apakah saya menyerah untuk tidak menulis dan meninggalkan hobi saya begitu saja? Tentu saja tidak. Akan sangat disayangkan jika saya meninggalkan hal yang membuat saya mampu mencintai keberadaan diri saya sendiri. Saya hanya cukup mengelolanya, mengelola segala kekurangan yang ada dalam diri saya. Saya harus mampu mengelola energi dan waktu pada kondisi-kondisi tertentu. Menentukan skala prioritas mana yang harus saya kerjakan dan saya selesaikan lebih dulu. Sehingga pekerjaan saya di luar terselesaikan, tetapi tulisan saya tetap bisa saya lanjutkan. Itulah manfaat dari mengenal diri sendiri, hidup menjadi lebih tertata dan terkondisi. Pekerjaan di luar tak terbengkalai, ibadah tak tergadai, dan impian masih tetap bisa dicapai.

Semoga kita semua mampu menjadi pribadi yang bisa menemukan potensi diri sendiri dan tidak merasa kecil hanya karena kekurangan yang selalu menemani. Karena jika kita tidak bisa mencintai diri kita sendiri, lalu bagaimana kita mampu menebar cinta kepada orang-orang yang ada di sekitar kita nantinya?

*Peserta #60HMB Batch 4
SmileShare @RafifAmirAhnaf @rafif_amir
Cancel